LCD Text Generator at TextSpace.net [flash=http://i339.photobucket.com/albums/n463/textspace/lcd/lcd_5.swf?w=1000&h=56&c=2&spd=2&b=1&t=bismillahirohmanirrohim]quality=high wmode=transparent width=1000 height=56[/flash]

Rabu, 30 Mei 2012

analisis transaksional


Bab I
Pendahuluan

  ERIC BERNE (1910-1970) kelahiran Montreal, Canada, adalah pelopor Analisis Transaksional (AT). Dia mulai mengembangkan AT ini sebagai terapi, bermula ketika dia bertugas dalam Dinas Militer Amerika Serikat diminta membuka program terapi kelompok bagi para serdadu yang mendapat gangguan emosional sebagai akibat Perang Dunia ke-2.
    Berne, pada mulanya seorang pengikut Freud dan melakukan praktik Psikoanalisis dalam terapi. Sebab, saat itu psikoanalisis tengah mendapat perhatian yang luar biasa. Bahkan Berne sendiri pernah mendapat kuliah psikoanlisis di Yale Psychiatric Clinic (1936-1938) dan New York Psichoanalitical Institute (1941-1943).
    Setelah Berne berhenti bekerja pada Dinas Militer itu, dia mulai melakukan eksperimen yang sungguh-sungguh. Akhirnya pada pertengahan tahun 50-an baru dia memperkenalkan teorinya, Analisis Transaksional. Diluar dugaan, teori ini mendapat sambutan baik dari kalangan ahli terapi kelompok, dalam pertemuan Regional Perhimpunan Terapi Kelompok Amerika di Los Angeles tahun 1957 teori ini diangkat sebagai salah satu tema yang dibahas. Tentu saja AT mulai mengundang ingin tahu banyak orang dengan prinsip-prinsip yang di kembangkannya. Prinsip-prinsip yang dikembangakan oleh Eric Berne dalam analisis transaksional  adalah upaya untuk merangsang rasa tanggung jawab pribadi atas tingkah lakunya sendiri, pemikiran logis, rasional, tujuan-tujan yang realistis, berkomunikasi dengan terbuka, wajar, dan pemahaman dalam berhubungan dengan orang lain.
    Analisis Transaksional (AT) merupakan psikoterapi transaksional yang dapat digunakan dalam konseling individual, tetapi lebih cocok digunakan dalam konseling kelompok. Analisis Transaksional melibatkan suatu kontrak yang dibuat oleh klien, yang dengan jelas menyatakan tujuan-tujuan dan arah proses konseling.Analisis Transaksional berfokus pada putusan-putusan awal yang dibuat oleh klien dan menekankan kemampuan klien untuk membuat putusan-putusan baru. Analisis Transactional menekankan aspek-aspek kognitif rasional-behavioral dan berorientasi kepada peningkatan kesadaran sehingga klien akan mampu membuat putusan-putusan baru dan mengubah cara hidupnya.

Bab II
Pembahasan
     1 .       Prinsip Dasar
     Pendekatan ini dikembangkan oleh Eric Berne, berlandaskan suatu teori kepribadian yang berkenaan dengan analisis structural dan transaksional. Teori ini menyajikan suatu kerangka bagi analisis terhadap tiga kedudukan ego yang terpisah, yaitu: orang tua, dewasa, anak.
   Sifat kontraktual proses terapeutik analisis transaksional cenderung mempersamakan kedudukan konselor dan klien. Adalah menjadi tanggung jawab klien untuk menentukan apa yang akan diubahnya. Pada dasarnya, analisis transaksional  berasumsi bahwa manusia itu:
a.    Manusia memiliki pilihan-pilihan dan tidak dibelenggu oleh masa lampaunya (Manusia selalu berubah dan bebas untuk menentukan pilihanya.)
Persoalan: alasan kenapa manusia berubah  ada tiga perkara, yaitu :
1)        Pertama, bahwa manusia (klien) adalah orang yang “telah cukup lama menderita”, karena itu mereka ingin bahagia dan mereka berusaha melakukan perubahan.
2)        Faktor kedua, adanya kebosanan, kejenuhan atau putus asa.. Manusia tidak tidak puas dengan kehidupan yang monoton, kendatipun tidak menderita bahkan berkecukupan. Keadaan yang monoton akan melahirkan perasaan jenuh atau bosan, karena itu individu terdorong dan berupaya untuk melakukan perubahan.
3)        Faktor ketiga, manusia bisa berubah karena adanya penemuan tiba-tiba. Ini merupakan hasil AT yang dapat diamati. Banyak orang yang pada mulanya tak-mau atau tak-tahu dengan perubahan, tapi dengan adanya informasi, cerita, atau pengetahuan baru yang membuka cakrawala barunya, timbullah semangatnya untuk menyelidiki terus dan berupaya melakukan perubahan.
b.      Manusia sanggup melampaui pengondisian dan pemrograman awal (Manusia dapat berubah asal dia mau.)
Perubahan manusia itu adalah persoalan di sini dan sekarang (here and now). Berbeda dengan Psikoanalisis, yang cenderung deterministik, di mana sesuatu yang terjadi pada manusia sekarang ditilik dari masa lalunya. Bagi AT, manusia sekarang punya kehendak, karena itu perilaku manusia sekarang adalah persoalan sekarang dan di sini. Kendatipun ada hubungannya dengan masa lalu, tapi bukan seluruhnya perilaku hari ini ditentukan oleh pengalaman masa lalunya.
c.    Manusia bisa belajar mempercayai dirinya dirinya sendiri , berfikir dan memutuskan untuk dirinya sendiri, dan mengungkapkan perasaan-persaannya.
d.   Manusia sanggup untuk tampil di luar pola-pola kebisaaan dan menyeleksi tujuan-tujuan dan tingkah laku baru.
e.    Manusia bertingkah laku dipengaruhi oleh pengharapan dan tuntutan dari orang-orang lain
f.     Manusia dilahirkan bebas, tetapi salah satu yang pertama dipelajari adalah berbuat sebagaimana yang diperintahkan.
     2 .       Konsep Dasar
a.    Struktur Kepribadian
       Sumber-sumber dari tingkah laku begaimana seseorang itu melihat suatu realitas seta bagaiman mereka mengolah berbagai informasi serta bereaksi dengan dunia pada umumnya, dan inilah yang disebut oleh Eric Berne sebagai Ego State (Status Ego).  Istilah status ego digunakan untuk menyatakan suatu system perasaan dan kondisi pikiran serta berkaitan dengan pola-pola dan tingkah lakunya. Status ego pada diri seseorang itu terbentuk berdasarkan pengalaman-pengalaman yang diperoleh seseorang yang masih membekas pada dirinya sejak kecil.
       Menurut Eric Berne behwa status ego seseorang terdiri dari unsur-unsur sebagai berikut:
1)        Orang tua (Parent)
Bila seseorang merasa dan bertingkah laku seperti orang tua atau tokoh-tokoh terdahulu, maka ia dapatlah berada dalam status ego orang tua. Setiap orang mendapatkan berbagai bentuk pengalaman, sikap, serta pendapat dari orang tuanya, maka dari itu berdasarkan pengalaman, sikap serta pendapatnya yang diperoleh dari orang tuanya masing-masing, setiap orang akan memiliki atau berada pada status ego orang tua.
Status ego orang tua itu lebih sering kita lihat dengan nyata, misalnya: membimbing, membantu, mengarahkan, menyayangi, menasihati, mengecam, mengomando, mendikte, dsb. Dapat pula dilihat secara verbal, yaitu: harus, awas, jangan, lebih baik, pokoknya, cepat, dsb. Selain itu dapat pula secara non-verbal, yaitu: merangkul, membelai, menuing, mencium, melotot, dsb.
Dapat dikatakan bahwa status ego orang tua dapat berbentuk langsung yaitu dengan menggunakan prototype, model, tipe, dari orang tua yang baik melalui verbal maupun non-verbal. Sedangkan dengan bentuk tidak langsung adalah merupakan petunjuk, aturan, norma, dan nilai-nilai yang pernah didenngar dari orang tua atau tokoh terdahulu pada masa kecil.
2)        Dewasa (Adult)
Status ego dewasa adalah bentuk tindakan seseorang yang berdasarkan dasar pikiran yang logis, rasional, objektif, dan bertanggungjawab. Dewasa berfungsi untuk mengumpulkan berbagai informasi, memasukkan berbagai macam data ke dalam bank data, kemudian mempertimbangkan berbagai bentuk kemungkinan yang ada.
3)        Anak (Child)
Status ego anak adalah suatu tindakan dari sesorang yang didasarkan pada rekasi emosional yang spontan, reaktif, humor, kreatif, serta inisiatif. Bentuk status ego anak dapat berbentuk wajar apabila terlhat bahwa tingkah lakunya pada masa anak-anak, yaitu: adanya ketergantungan pada orang lain, spontan, bebas, agresif, tidak mau kompromi, impulsive, kreatif, ingin tahu, merasakan berbagai bentuk penemuan baru yang berbentuk status ego yang lain adalah pengaruh tertentu dari orang tuanya.
Dengan adanya pengaruh yang begitu melekat, maka menyebabkan anak bertindak dan bertingkah laku sesuai harapa, keinginan, dan cita-cita dari orang tuanya. Di sini akan tampak pola anak yang taat, patuh, sopan, penurut, tetapi ada pula yang menyebabkan anak mengalamai penderitaan, yaitu: overprotection, manja, konflik, stress, frustasi. Jadi status ego anak merupakan kejadian internal pada masa kanak-kanaknya
b.   Stroke
Dalam teorinya, Eric Berne mengemukakan suatu istilah yang disebut stroke, yang dapat diterjemahkan dengan “tanda perhatian”. Menurutnya stroke dapat dibedakan menjadi :
1)        Stroke Positif (Positive stroke)
Stroke positif adalah merupakan segala bentuk perhatian yang secara langsung dapat memperkuat motivasi dan kegairahan dalam kehidupannya yang diperoleh seseorang dalam awal kehidupannya.
Misalnya : belaian, ciuman, senyuman, tepukan, dll. Bentuk stroke yang lain yaitu seperti piagam atas suatu prestasi, ijazah, dll. Stroke ini dapat menyebabkan seseorang merasa dihargai dan diperhatikan.
2)   Stroke negative (negative stroke)
Stroke negative adalah suatu bentuk stroke yang menunjukkan pandangan yang mengecewakan atau menyesali, pukulan, tamparan yang menyakitkan, kata-kata yang keras, mengkritik, sikap acuh, memelas, dll.
Sedangkan stroke yang lebih formal adalah, tanda peringatan, surat teguran, nilai merah, dll. Stroke ini menyebabkan seseorang merasa tidak dihargai dan tiak berarti, dan secara langsung memungkinkan seseorang memiliki dan tumbuh sikap yang defensive untuk mempertahankan diri.
3)   Stroke bersyarat (conditional stroke)
Stroke bersyarat dapat diartikan sebagai suatu tanda perhatian yang diperoleh seseorang disebabkan ia telah melakukan sesuatu. Misalnya, “saya mau menemanimu berbelanja, asalkan kau mau membantu membersihkan rumah.”
4)   Stroke tidak bersyarat ( unconditional stroke)
Stroke tak bersyarat atau perhatian tak bersyarat, adalah tanda perhatian yang diperoleh seseorang tanpa dikenakan persyaratan apapun. Misalnya, “ Saya akan membantu anda dengan sebaik-baiknya.”
c.    Struktur Hunger
Eric Berne berpendapat bahwa kebutuhan seseorang untuk mengadakan serangkaian transaksi dengan individu lainnya adalah bersumber pada suatu stimulus atau sensation hunger, dan recognition hunger. Berdasarkan suatu penelitian, Eric Berne berpendapat bahwa  sensation hunger memiliki nilai yang sama dengan food hunger, dan berpengaruh terhadap kelangsunga hidup seseoarang.
Pada awalanya stimulus hunger ini akan bisa terpenuhi melalui sentuhan, belaian, oleh ibunya pada waktu kecil. Sejak itu individu belajar untuk menerima berbagai bentuk rangsangan lain, misalnya: senyuman, timangan, kata-kata, dll. Dalam hubungan ini terjadilah perubahan bentuk, yaitu dari bentuk stimulus hunger menjadi recognition hunger, dan selanjutnya berkembang kearah pembentukan suatu struktur yang lebih jelas, dan perubahan ini yang di sebut Eric Berne sebagai Struktur Hunger.
Setiap orang ingin mendapatkan kontak, baik fisik maupun psikis dengan orang lain, dan setiap orang ingin menggunakan waktunya dengan sebaik-baiknya sepanjang hidupnya. Dalam analisis transaksional dari Eric Berne mengemukakan 6 cara penggunaan waktu, yaitu:
1)        Withdrawal
Arti kata Withdrawal dapat diartikan penarikan diri. Penarikan diri di sini maksudnya adlah suatu keadaan dimana seseorang sama sekali tidak mau mengadakan konsultasi dengan terbuka dengan orang lain. Orang tersebut menyendiri atu mengisolir diri secara fisik ataupun psikis, misalnya: melamun, berfantasi, dll.
2)        Rituals
Rituals adalah suatu rangkaian transakasi yang diatur secara social dimana sudah ada suatu aturan tertentu dari stimulus dan respon. Ritual ini dilaksanakan tanpa memiliki suatu pesan yang berarti, misalnya: selamat pagi, selamat malam, apa kabar, dll.
3)        Pastimes
Tujuan dari transaksi yang terjadi adalah untuk pengisian waktu luang. Sedangkan objeknya adalah kegiatan yang tidak mengandung bahaya, misalnya: olahraga, mobil, anak, mode, politik. Hal ini sering dilakukan antar orang yang saling mengenal, misalnya dalam bus, pesta.
4)        Aktivitas
Aktivitas atau juga bisaa disebut dengan “kerja”, yaitu mengerjakan tugas-tugas yang sebelumya telah direncanakan tentang ketentuannya. Hal ini untuk memenuhi tuntutan serta kebutuhan biologis atau psikologis.
5)        Games
Permainan atau games merupakan suatu rangkaian transaksi yang ruang geraknya menuju kea rah yang jelas dan dapat diramal sebelumnya. Permaianan sering menimbulkan kesulitan dalam kontak social serta menghalangi hubungan yang bersifat interpersonal terbuka, jujur, dan intim.
6)        Intimacy
Merupakan suatu rangkaian transaksi yang cukup sederhana yang menyebabkan terjadinya hubungan interpersonal yang paling dalam. Intimacy akan berlangsung dengan penuh kehangatan, kelembutan, afeksi, dan kasih saying.
d.   Posisi Psikologis Dasar
Thomas A.Haris, M.D., menyebutkan adanay empat posisi psikologis yang menentukan kehidupan seseorang, di antaranya:
1)        Posisi pertama     : I’m Not OK – You’re OK
Posisi ini menunjukkan behwa pada diri seseorang meraskan bahwa ia lebih rendah dari orang lain. Posisi ini adalah sikap umum yang yang pertama dimiliki oleh anak pada masa awal kanak-kanak. Posisi ini juga terbentuk pada seseorang yang mendapat stroke yang negative.  Dominasi posisi ini disebut Adapted child (anak penurut)
2)        Posisi kedua        : I’m Not OK – You’re Not OK
Keadaan ini lebih parah dan berbahaya dari posisi pertama, da n dipilih sebagai posisi psikologis. Posisi ini disebabkan mereka tidak memiliki gairah hidup. Mereka sudah menganggap ketidakberdayaan, ketidakmampuan yang ada pada dirinya tiadk ada yang bisa menolong.
3)        Posisi ketiga         : I’m OK – You’re Not OK
Posisi hidup ini menunujukkan adanya kecenderungan pada diri seseorag untuk menuntut seseorang, menyalahkan seseorang, mengkambinghitamkan orang lain, menuduh orang lain. Hal ini dapat disebabkan mereka merasa dikecewakan orang lain. Dan di posisi ini dia menganggap diriny alebih baik dari orang lain.
4)        Posisi keempat    : I’m OK – You’re OK
Posisi ini adalah posisi hidup yang sehat dan menunjukkan adanya suatu keseimbangan pada diri seseorang yang bersifat konstruktif. Posisi ini menunjukkan adanya pengakuan akan orang lain yang memiliki hak yang sama dengan dirinya.
e.    Kondisi sehat dan tidak sehat pada individu
1)        Individu sehat, ditandai dengan tingkah lakunya
a)      Dapat menggunakan ketiga status ego dengan baik
b)     Posisi dasar hidupnya adalah I am OK, you are OK
c)      Relatif bebas dari script
d)     Tidak ada kebutuhan untuk “games playing”
e)      Memahami dirinya dan orang lain
f)       Bisa menyatakan diri secara bebas
g)      Bisa mencintai dan dicintai
2)        Individu tidak sehat, ditunjukkan dengan tingkah lakunya dengan
a)      Konsep diri negatif
b)     Hubunngan denngan oranng lain negatif
c)      Posisi dasar hidupnya I am OK, you are not OK / I am not OK, you are not OK /  I am not OK, you are OK, kontaminasi atau eksklusi.   
    3.       Tujuan Konseling
    Tujuan dasar dari Analisis Transaksional adalah membantu klien dalam membuat putusan-putusan baru yang menyangkut tingkah lakunya sekarang dan arah hidupnya. Sasarannya adalah mendorong klien agar menyadari bahwa kebebasan dirinya dalan memilih telah dibatasi oleh putusan-putusan dini mengenai posisi hidupnya dan oleh pilihan terhadap cara-cara hidup yang mandul dan determinstik. Inti dari konseling adalah menggantikan gaya hidup yang ditandai oleh permainana yang manipulative dan oleh scenario-skenario hidup yang mengalahkan diri, dengan gaya hidup otonom yang ditandai oleh kesadaran, spontanitas, dan keakraban.
   Menurut Eric Berne, dalam bukunya yang berjudul “Principles of Group Treatment, (1966)” mengemukakan empat tujuan yang ingin dicapai dalam konseling analisis transaksional, al:
a.    Konselor membantu klien yang mengalami kontaminasi (pencemaran) status ego yang berlebihan
b.    Konselor berusaha membantu mengembangkan kapasitas diri klien dalam menggunakan semua status egonya yang cocok. Ini menyangkut pula dalam memperoleh kebebasan dan kemampuan yang dapat ditembus di antara status egonya.
c.    Konselor berusaha membantu klien di dalam mengembangkan seluruh status ego dewasanya. Pengembangan ini pada hakikatnya adalah menetapkan penalaran dan pemikiran individu. Untuk itu dibutuhkan kemampuan serta kapasitas yang optimal dalam mengatur hidupnya sendiri.
d.   Membantu klien dalam membebaskan dirinya dari posisi hidup yang kurang cocok serta menggantinya dengan rencana hidup yang baru, atau naskah hidup (life script) yang lebih produktif.
4.       Hubungan Konselor – Klien
     Analisis Transaksional adalah suatu bentuk terapi yang berdasarkan kontrak. Suatu kontrak dalam Analisis Transaksional mnyiratkan bahwa seseorang akan berubah. Kontrak haruslah spesifik, ditetapkan secara jelas, dan dinyatakan secara ringkas. Kontrak berisi tentang apa yang akan dilakukan oleh klien, bagaimana klien akan melangkah kea rah tujuan yang telah ditetapkan, dan klien tahu kapan kontraknya akan habis. Sebagai sesuatu yang dapat diubah-ubah, kontrak dapat dibuat secara bertahap. Konselor akan mendukung dan bekerja sesuai dengan kontrak. 
      Banyak klien yang memandang konselor sebagai sumber obat yang manjur untuk segala macam penyakit, sehingga mereka mengawali konseling dengan sikap pasif dan dependen. Salah satu kesulitan mereka adalah penghindaran dari kewajiban memikul tanggung jawab, dan mereka berusaha meneruskan gaya hidupnya dengan mengalihkan tanggung jawab kepada konselor. Pendekatan kontraktual Analisis Transaksional berlandaskan pengharapan bahwa para klien berfokus pada tujuan-tujuan mereka dan membuat suatu komitmen. Konselor menekankan pembagian tanggung jawab dan menyajikan suatu titik pemberangkatan untuk bekerja.
     Pendekatan kontrak dengan jelas menyiratkan suatu tangguang jawab bersama. Dengan berbagi tanggung jawab bersama konselor, klien menjadi rekan treatment-nya. Konselor tidak melakukan sesuatu kepada klien sementara klien itu pasif. Akan tetapi, baik konselor maupun klien harus aktif dalam kegiatan konseling tersebut. Ada beberapa implikasi yang menyangkut hubungan konselor dank klien, yaitu:
a.    Tidak ada jurang pengertian yang tidak bisa dijembatani di antara konselor dan klien.
Konselor dan klien berbagi kata-kata dan konsep-konsep yang sama, dan keduanya memiliki pemahaman yang sama tentang situasi yang dihadapi.
b.    Klien memiliki hak-hak yang sama dan penuh  dalam konseling.
Berarti klien tidak bisa dipaksa untuk menyingkapkan hal-hal yang tidak ingin diungkapkannya. Selain itu pasti klien merasa bahwa dia tidak akan diamati atau direkam di luar pengetahuannya atau tanpa persetujuan darinya.
c.    Kontrak memperkecil perbedaan status dan menekankan persamaan di antara konselor dan klien.
  Menurut Harris (1967, hlm 230), pada diri konselor, seorang klien harus menemukan “seorang manusia yang berminat memajukan pengetahuan pasien tentang dirinya sendiri dalam seketika sehingga secepat mungkin, pasien itu bisa menjadi analis bagi dirinya sendiri”.
  Inti pokok dari AT terletak pada usaha konselor menganalisis transaksi klien dengan teknik-teknik yang telah disebutkan diatas. Dengan demikian telihat sikap dan peranan konselor di sini :
a.    Berusaha meletakkan tanggung jawab pada klien
Karena pada hakekatnya setiap hendaknya bertanggung jawab atas kehidupannya, maka bagi AT juga mengarahkan agar pada diri klien tumbuh rasa tanggung jawab dan kemampuan untuk mengambil tanggung jawab atas kehidupannya.
b.    Menyediakan lingkungan yang menunjang
Untuk mencapai perubahan klien atau keseimbangan ego state klien, konselor berusaha sebagai penyedia fasilitas yang mendorong terjadinya perubahan ego state klien.
c.    Memisahkan mite dengan realitas
Karena pengaruh skript, banyak klien dipengaruhi oleh mitologi yang telah diadapsinya sejak lama. Dalam rangka memperbaiki kembali (memahami kembali) skript kehidupan klien itu, konselor AT mempunyai peranan untuk memisahkan mite yang berpengaruh dalam skript klien dengan realitas kehidupan yang sebenarnya.
d.   Melakukan Konfrontasi atas keanehan yang tampak
Keanehan atau keadaan ego state klien yang tidak seimbang dapat diperbaiki konselor dengan melakukan konfrontasi.Konselor hendaknya bisa membentuk dan merekonstruksi menjadi seimbang.
 Jadi, dengan melihat peranan dan sikap konselor di atas, memperlihatkan bahwa konselor dalam AT bersifat aktif. Dia lebih banyak menentukan jalanya konseling.
   5.     Proses Konseling
    Proses Konseling Analisis Transaksional ini dilakukan setiap transaksi dianalisis, Klien yang nampaknya mengelakkan tanggung jawab diarahkan untuk mau menerima tanggung jawab pada dirinya. Sehingga Klien dapat menyeimbangkan Egogramnya, mendefinisikan kembali skiptnya, serta melakukan instrospeksi terhadap games yang dijalaninya.
     Menurut Harris, proses konseling AT ada beberapa tahapan, al:
a.    Pada bagian pendahuluan digunakan untuk menentukan kontrak dengan klien, baik mengenai masalah maupun tanggung jawab kedua pihak.
b.    Pada bagian kedua baru mengajarkan Klien tentang ego statenya dengan diskusi bersama Klien ( Shertzer & Stone, 1980 : 209).
c.    Kemudian membuat kontrak yang dilakukan oleh klien sendiri, yang berisikan tentang apa yang akan dilakukan oleh klien, bagaimana klien akan melangkah kea rah tujuan yang telah ditetapkan, dan klien tahu kapan kontraknya akan habis. Kontrak bagi Dusay (Cosini, 1984 : 419 ) adalah berbentuk pernyataan klien – konselor untuk bekerja sama mencapai tujuan dan masing-masing terikat untuk saling bertangung jawab. Kontrak dalam AT menurut Dussay dan Steiner, dalam bukunya “Transactional Analysis in Group” (1971), mengemukakan beberapa persyaratan yang harus dipenuhi dalam kontrak, al:
1)        Dalam kontrak, konselor dan klien harus melalui transaksi dewasa-dewasa, serta ada kesepakatan dalam menentukan tujuan-tujuan yang ingin dicapai.
2)        Kontrak harus mempertimbangkan beberapa hal diantaranya
a)    pertimbangan pertama yaitu konselor memberikan layanan kepada klien secara profesional (baik berupa kesempatan maupun keahlian)
b)   pertimbangan kedua yaitu, klien memberikan imbalan jasa kepada konselor, dan menandatangani serta  melaksankan isi kontrak sesuai dengan waktu atau jadwal yang telah ditetapkan.
3)        Kontrak memiliki pengertian sebagai suatu bentuk kompetensi anatara dua pihak, yaitu, konselor yang harus memiliki kecakapan untuk membantu klien dalam mengatasi masalahnya, dan klien harus cukup umur dan matang untuk memasuki suatu kontrak.
4)        Tujuan dari kontrak haruslah sesuai dengan kode etik konseling.
d.   Setelah kontrak ini selesai, baru kemudian konselor bersama klien menggali ego state dan memperbaikinya sehingga terjadi dan tercapainya tujuan konseling.
   6.     Teknik – Teknik Konseling
     Dalam konseling yang menggunakan pendekatan analisis transaksional, digunakan teknik-teknik tertentu. Teknik yang dipergunakan terdiri dari 4 tahap. Tahap-tahap tersebut adalah structural, analisis transaksional, analisis naskah, analisis game.
a.    Analisis Struktur (Structural Analysis)
Analisis struktur sebagai alat yang dapat membantu klien agar menjadi sadar atas isi dan fungsi ego orang tua, dewasa, dan anak yang dimilikinya. Analisis structural membantu klien dalam mengubah pola-pola yang dirasakan menghambat. Ia juga membantu dalam menemukan perwakilan ego yang mana menjadi landasan tingkah lakunya. Dengan hal tersebut maka, klien bisa memperhitungkan pilihan-pilihannya.
Terdapat dua tipe masalah yang berkaitan dengan struktur kepribadian yang dapat diselidiki dengan analisis structural:
1)        Pencemaran, terjadi apabila isi perwakilan ego yang satu bercampur dengan isi perwakilan ego yang lainnya. Misalnya: penecemaran oleh ego orang tua terhadap ego dewasa yang menembus batas ego dewasa dan mencampuri pemikiran dan fungsinya. Hal-hal tersebut dapat dilihat dari pernyataan-pernyataan, al: “jangan bergaul dengan orang-orang yang bukan berasal dari kalangan kita”
2)        Penyisihan (eksklusi), ketika ego anak yang tersisih bisa “merintangi” ego orang tua, atau apabila ego orang tua yang tersisih “meringtangi” ego anak. Penyisihan meliputi:
a)      Penyisihan SED dan SEA oleh SEO,  Ego orang tua yang konstan menyisihkan ego orang dewasa, dan ego anak bisa ditemukan pada orang yang begitu terikat pada suatu tugas dan berorientasi pada pekerjaan, tetapi tugas dan pekerjaan itu tidak bisa dilaksanakannya. Orang semacam ini bersifat moralis, menghakimi, menunutut pada orang lain.

b)      Penyisihan SEO dan SEA oleh SED, ego oranng dewasa yang konstan yang menyisihkan ego orang tua dan anak ditemukan pada orang yang objektif, yakni terus menerus terlibat dan berurusan dengan fakta. Individu seperti ini tampil seperti robot, kurang menunjukkan perasaan dan kurang spontan.

c)      penyisihan SEO dan SED oleh SEA, ego anak yang konstan menyisihkan ego orang tua dan dewasa, pada akhirnya menjadi sosiopat tanpa nurani. Ditunjukkan pada orang yang infantilisme, spontan menolak untuk tumbuh, bertindak tidak bisa berfikir dan memutuskan sendiri, selalu berusaha mempertahankan kebergantungannya untyk menghindari tanggung jawab dan berusaha menemukan orang lain yanng bisa memeliharanya
b.   Analisis Transaksional
     Pemahaman ketiga status ego tersebut merupakan hal yang penting dalam rangka melangkah ke tahap yang selanjutnya , yaitu analisis transaksional. Analisis transaksional pada dasarnya adalah suatu penjabaran atas suatu analisis yang dilakukan oleh orang-orang satu sama lain. Orang-orang yang melibatkan suatu transaksi di antara perwakilan-perwakilan ego mereka. Ketika pesan disampaikan, diharapkan ada suatu respon. Dalam hal ini yang terpenting bagi konselor adalah mampu untuk menaganalisis status ego yang ada, dan status ego manakah yang memberikan respon terhadap stimulus yang diberikan. Dalam menganalisis, tidak cukup hanya lewat penrnyataan-pernyataannya saja, melainkan juga dengan secara non-verbal, misalnya dengan sikap tubuh, mimik muka, nada suara, dan tindak tanduknya dalam berinteraksi.
     Dalam menganalisis ego anak secara non-verbal dapat  dilihat dari tingkah lakunya, al: tertawa terbahak-bahak, mengankat bahu, mata diarahkan ke bawah, bibir yang bergetar karena marah atau sedih. Secara verbal dapat dilihat dari pernyataan : “saya pikir……….”, “siapa……..? , “bagaimana ? ”.
     Sedangkan ungkapan khas dari ego dwasa adalah 5W1H (what, who, why, where, when, how).selain itu, untuk status ego orang tua yanitu: sikap merangkul, membelai, mamukul paha, dahi berkerut, melotot, badan sedikit condong ke depan, dll.
   Transaksi-transaksi yang dilakukan tersebut terdiri atas tiga macam, yaitu komplementer, menyilang dan terselubung.
1)       

  OT                          OT
  OD                          OD
  A                             A
   X                             Y
 
Transaksi komplementer terjadi apabila suatau pesan yang disampaikan oleh perwakilan ego seseorang memperoleh respon yang telah diperkirakan oleh perwakilan ego dari orang lain.
X         : “aku ingin meluncur di atas salju     
    bersamamu”

Y        : “hey, itu kedengarannya menarik! Mari
    kita pergi

Gambar Transaksi Komplementer
2)        Transaksi menyilang terjadi apabila respon yang tidak diharapkan diberikan kepada suatu pesan yang disampaikan oleh seseorang .


  OT                          OT
 OD                          OD
   A                             A
   X                             Y
 
                                                                        X         : ”aku ingin meluncur di atas salju
                Bersamamu”
Y         : “ah, sadarlah dan bertindaklah
                Sesuai dengan usiamu. Aku
                tidak punya waktu yang bisa dibuang
                percuma untuk ketololan seperti itu”.
Gambar Transaksi Menyilang
3)        Transaksi terselubung merupakan suatu transaksi yang kompleks, terjadi apabila lebih dari satu ego terlibat serta seseorang menyampaikan pesan terselubung kepada seseorang yang lainnya.


  OT                          OT
  OD                          OD
  A                             A
  X                             Y
 
“Suami kepada istri: “maukah kamu pergi keluar dan bermain di atas salju, atau mungkin kita harus menyelesaikan pekerjaan di rumah!”
Suami menyampaikan suatu pesan terselubung yang bisa didengar oleh istri, yaitu:
a)      Mari kita pergi keluar dan bermain di atas salju (anak-anak) atau
b)      Bertanggung jawablah dan selesaikan pekerjaan kita (orangtua-orangtua)

c.    Analisis Mainan (Game Analysis)
Game menurut Eric Berne merupakan suatu rangkaian transaksi terselubung yang berulang menuju pada hasil psikologis yang nyatanya dapat diduga sebelumnya.  Suatu game memilki tiga unsur penting, al:
1)      Transaksi yang tampaknya berjalan seperti bisaa dapat terlihat seakan-akan transaksi berlangsung secara wajar
2)      Dalam transakasi tampak ada suatu maksud yang terselubung.
3)      Adanya imbalan.
Peranan konselor dalam analisis game apabila klien benar-benar bermotivasi untuk memperbaiki sikap, sifat, maupun kebisaaan yang dirasakan perlu untuk diperbaiki dan memerlukan bantuan dari konselor.
d.   Analisis Naskah ( Script analysis)
Analisis Naskah (Script analysis) adalah langkah terakhir dari suatu tata laksana pendekatan konseling dengan berorientasi pada Analisis transaksional. Analisis naskah terjadi sejak masa si bayi masih dalam masa asuhan orang tuanya. Di mana pada masa itu terjadi bentuk transaksi antara orang tua dengan anak-anaknya. Lambat laun dengan terjadinya transaksi antaraanak dan orang tua terciptalah suatu tujuan hidup atau rencana hidup (life plan) yang dalm istilah analisis transaksional disebut script.
Segi positif dari naskah (script) adalah naskah itu bisa diubah, karena naskah itu terjadi dengan adanya proses learned atau sesuatu yang dibiasakan dan tidak karena factor pembawaan.
Menurut Hansen (1980), pola asuh yang negatif dalam masa pertumbuhan anak adalah sebagai berikut:
1)        Usia 6-18 bulan, tidakmemberi peluang eksplore, membatasi ruang gerak dan memberi latihan toilet
2)        Usia 18-36 bulan, tidak ada disiplin, harapan tinggi tuntutan keras, tidak ada dorongan adult to adult
3)        Usia 3-6 tahun, mengejek, menghalangi bernalar, tidak didorong memahami diri, tidak didorong memecahkan masalah
4)        Usia 6-12 tahun, aturan kaku atau tidak ada aturan, tidak ada respek terhadap daya nalar dan ide-ide anak.
Sedangkan pola asuh keluarga injunction sebagai suatu pesan yang diberikan oleh orang tua kepada anak dari keadaan yang dimiliki orang tuamemungkinkan perasaan sakit, kecemasan, marah, frustasi dan tidak berbahagia sebagai early decision, yaitu keputusan awal yang terbentuk di dalam drianak sebagai script (naskah hidup) berikut:
1)        Don’t (jangan), orang tua selalu khawatir anaknya mendapat celaka dalam bentuk pesan melarang anaknya melakukan sesuatu meskipun sesuatu itu “normal”. Penerimaan anak ialah keyakinan bahwa ia tidak bertindak benar dan aman, atau anak mencari orang lain untuk melindungi dirinya dari putusannya. Keputusan anak adalah:
a)      Saya tidak dapat memutuskan untuk diri saya sendiri
b)      Saya tidak akan pernah mengambil keputusan untuk diri saya sendiri
c)      Saya takut membuat keputusan salah
d)     Saya dapat membuat kesalahan
e)      Saya tidak akan memutuskan sendiri
2)        Don’t be (jangan hidup), orang tua memilki perasaan menolak anak, terkandung pesan saya ingin kamu tidak pernah dilahirkan. Keputusan anak adalah:
a)      Saya tidak akan pernah mendpatkan kasih sayang darimu
b)      Saya akan melakukan apa yang kamu inginkan
c)      Kehadiran saya tidak dininginkan dalam keluarga
d)     Saya hanya membawa kejelekan di dalam keluarga
e)      Saya lebih baik bunuh diri saja
3)         Don’t be close (jangan menjadi akrab), orang tua yang tidak akrab secara fisik dengan anak atau menolak berbicara dari hati ke hati, terkandung pesan jangan percaya dan jangan sayangi. Keputusan anak adalah:
a)      Saya tidak boleh mengakrabkan diri
b)      Jika saya akan mengakrabkan diri, orang-orang akan menjauhi saya
c)      Saya tidak akan pernah mendapat keakraban
d)     Saya tidak akan pernah jatuh hati
e)      Saya tidak akan pernah mempercayai lelaki atau wanita
4)        Don’t be important (jangan menjadi penting), orang tua yang tidak menghargai anak dalam berbicara, terkandung pesan anak merasa tidak dihargai sebagai pribadi ketika berbicara dan menganggap dirinya tidak penting dan tidak perlu bertanya apa yang mereka inginkan dan butuhkan. Keputusan anak adalah:
a)      Saya tidak akan pernah menjadi atau merasa penting
b)      Jika saya pernah menjadi penting dan kalaupun pernah, orang lain tidak akan memperhatikannya.
5)        Don’t be child (jangan menjadi anak-anak), orang tua yang memberi tanggung jawab pengasuhan anak kepada anak tertuanya, terkandug pesan bahwa anak tertua sering menerima tanggungjawab dan mengambil perawatan dari sebagian besar anak dan mereka berkembang mungkin menemukan kesulitan untuk mengubah dirinya sendiri, tidak boleh bermaindan bertindak seperti anak-anak. Keputusan anak adalah:
a)      Saya harus selalu dewasa dan tidak boleh bertindak kekanak-kanakan
b)      Saya akan merawat oranglain dan saya tidak akan bertanya sesuatu tenyang diri saya sendiri
6)        Don’ be grow (jangan bertumbuh), orang tua yang tahu yang tidak menerima kenyataan bahwa suatu saat anaknya berkembang dan akan meninggalkannya, terkandung pesan yang mencakup jangan bertumbuh melampaui anak-anak, jangan bertumbuh dan meninggalkan saya, tetaplah menjadi heteroseksual. Keputusan anak adalah:
a)      Saya tidak boleh berpacaran, kareana orangtua saya tidak merestui
b)      Saya masih kecil dan sangat memerlikan bantuan
c)      Saya akan tetap menjadi anak yang baik untuk orang tua
7)         Don’t success (jangan berhasil), orangtua yang selalu mengkritik anaknya terkandung pesan kamu tidak akan pernah dapat melakukan ini, dan kamu tidak akan pernah melakukan dengan benar. Keputusan anak adalah:
a)      Saya pada dasarnya butuh dan akan selalu butuh
b)      Saya akan tunjukkan bahwa saya tidak mampu buatnya
c)      Saya tidak akan pernah merasa cukup baik
8)        Don’t be you (jangan sebagai kamu), orangtua yang selalu menyayangi dan mengekang anak terkandung pesan bahwa kamu masih anak-anak, saya akan menyayangimu dan kamu berperilaku seksual yang salah. Keputusan anak adalah:
a)      Tidak ada yang bisa saya lakukan
b)      Saya tidak menempati posisi seperti mereka
c)      Saya masih anak-anak
9)        Don’t be sane and don’t be well, perhatian orangtua terutama pada waktu anak merasa sakit secara fisik atau ketika memperlihatkan gejala perilaku gila, terkandung pesan bahwa perilaku sakit atau gila sebagai model yang perlu dikukuhkan. Keputusan anak adalah saya akan menjad sakit kemudian gila
10)    Don’t belong (jangan menjadi miliknya), orangtua menujukkan sikap dan perilaku “merasa lebih dari ” lingkungannya, terkandung pesan bahwa keluarga tidak termasuk di dalam suatu masyarakat atau kelompok tertentu. Keputusan anak adalah:
a)      Tidak ada seorang pun yang akan menyukai saya, karena saya tidak bergabung di mana-mana
b)      Saya tidak akan merasakan suasana rumah dan dimana  saja
Selanjutnya berdasarkan analisis itu konselor dapat memberikan bantuan pemecahan masalah melalui:
1)      Permission (memberi kebebasan melakukan sesuatu yang dilarang orang tua)
2)      Protection (menciptakan rasa aman )
3)      Potention (konselor berusaha dengan cara mengembangkan kemampuannya untuk kepentingan kesejahteraan klien.)
7.     Kecocokan untuk Diterapkan di Indonesia
     Masyarakat Indonesia merupakan masyarakat yang majemuk dan ramah. Kebanyakan orang Indonesia dapat berinteraksi dengan baik dengan orang lain sekalipun mereka orang asing. Banyak factor yang dapat menyatukan mereka antara lain, suku bangsa, ras, agama, kelompok masyarakat, kebisaaan, dll. Sedangkan konsep-konsep dan teknik-teknik Analisis Transaksional sangat cocok pada situasi kelompok. Dalam setting kelompok orang-orang bisa mengamati perubahan orang lain yang memberikan kepada mereka model-model bagi peningkatan kebebasan memilih. Mereka menjadi paham atau sadar atas struktur dan fungsi kepribadian mereka sendiri serta belajar bagaimana bertransaksi dengan orang lain. Interaksi dengan anggota kelompok lain memberikan kepada mereka kesempatan yang sangat luas untuk melaksanakan tugas-tugas dan memenuhi kontrak. Transaksi dalam kelompok memungkinkan para anggota untuk dapat meningkatkan keadaan, baik tentang dirinya sendiri maupun orang lain.
     Harris membahas beberapa keuntungan yang bisa diperoleh dari pendekatan kelompok, diantaranya:
a.    Berbagai cara ego orang tua mewujudkan dirinya dalam transaksi-transaksi bisa diamati
b.    Karakteristik-karakteristik ego anak pada masing-masing individu dalam kelompok bisa diamati
c.    Orang-orang bisa dialami dalam suatu lingkungan yang alami, yang ditandai oleh keterlibatan orang-orang lain.
d.   Konfrontasi-konfrontasi permainan yang timbal balik bisa muncul secara wajar
e.    Para klien bergerak dan membaik lebih cepat dalam treatment kelompok.
      Selain itu secara rasional, keberhasilan AT mungkin sekali kita rekrut ke sekolah. Malah kita lebih optimis lagi, karena dapat mengamati langsung perubahan klien di luar ruangan konseling. Betapa tidak, titik sentral dari analisisnya terletak pada transaksi. Selama klien masih berada di sekolah, selama itu pula kita dapat menganalisis transaksinya baik dengan temannya atau gurunya.
      Lebih optimis lagi, bahwa AT dapat berhasil bila digunakan sebagai penyuluh kelompok. Karena orang yang sehat kreteria AT adalah yang punya perasaan bebas untuk menentukan pilihannya. Transaksi yang digunakan adalah terciptanya transaksi antar status ego Dewasa. Kemungkinan tumbuh dan berkembang transaksi antar ego Dewasa ini lebih besar dengan teman sebaya. Jadi kondisi ini memungkinkan konselor menerapkan AT sebagai penyuluh kelompok di sekolah.
      Kondisi ini ditopang oleh faktor budaya kita. Indonesia sebagai bangsa yang berlandaskan pada Pancasila bukanlah negara yang berfaham Liberal. Adat dan sopan santun ketimuran selalu melengket pada masyarakat Indonesia. Cara berbicara dengan orang yang sama besar atau lebih kecil tidak sama dengan cara berbicara dengan orang yang dihormati dan atau lebih besar. Pada beberapa daerah, bahasa yang digunakanpun juga berbeda, lebih halus dan lembut. Karena itu, keberhasilan AT pada masyarakat Amerika yang egaliter belim tentu bisa sama dengan masyarakat kita
     Dengan adanya manfaat tersebut, maka Analisis Transaksional cocok untuk diterapkan di Indonesia. Karena Masyarakat Indonesia sangat menjunjung tinggi kebersamaan dan selalu saling bergantung dan membutuhkan satu sama lain serta hidup di lingkungan kelompok

Bab III
Kesimpulan
    Analisis Transaksional (AT) adalah psikoterapi transaksional yang dapat digunakan dalam konseling individual, tetapi lebih cocok digunakan dalam konseling kelompok. Analisis Transaksional melibatkan suatu kontrak yang dibuat oleh klien, yang dengan jelas menyatakan tujuan-tujuan dan arah proses konseling. Prinsip-prinsip yang dikembangakan oleh Eric Berne dalam analisis transaksional  adalah upaya untuk merangsang rasa tanggung jawab pribadi atas tingkah lakunya sendiri, pemikiran logis, rasional, tujuan-tujan yang realistis, berkomunikasi dengan terbuka, wajar, dan pemahaman dalam berhubungan dengan orang lain.
   Konsep dasar konseling analisis transaksional, al:
1.      Pandangan tentang Sifat Manusia
2.      Struktur Kepribadian
3.      Stroke
4.      Struktur Hunger
5.      Posisi Psikologis Dasar
  Tujuan dasar dari Analisis Transaksional adalahh membantu klien dalam membantu klien dalam membuat putusan-putusan baru yang menyangkut tingkah lakunya sekarang dan arah hidupnya.Teknik dalam konseling analisis transaksional , al:
1.      Analisis Struktur (Structural Analysis)
2.      Analisis Transaksional
3.      Analisis Mainan (Game Analysis)
4.      Analisis Naskah ( Script analysis)






Daftar Pustaka
Corey Gerald. 2005. Teori dan Praktek Konseling dan Pikotrapi . Bandung: Rafika Aditama
Sukardi, Dewa Ketut . 2002. Bimbingan dan Konseling di Sekolah. Jakarta: Rineka Cipta






Tidak ada komentar:

Poskan Komentar